Hanya sebuah kejujuran.
Sebentar, biar kutenangkan diri sebelum menyampaikan banyak hal kepadamu karena banyak hal yang harus kuungkapkan karena setelah berbulan - bulan lamanya aku berusaha menghindarimu tapi memang ada suatu hal yang mengharuskan kita bertemu dan membuatku menyadari satu hal. Maaf, jika perasaan itu belum pernah benar-benar jernih merelakanmu. Aku tahu, ini menyebalkan, namun sayang padamu memang bebal di ingatan. Sudah sejauh apa kamu berjalan menjauh? Sudah seerat apa pelukan dia yang mencoba menguatkanmu yang rapuh? Apa betul dia lebih tangguh dari usahaku mengutuhimu? Apa benar dia berhasil menghapus aku dari lembar-lembar pikiranmu? Coba tanya lagi dirimu dalam sepi. Kau memintaku berdamai dengan diri sendiri dan merelakan masa lalu. Kau tidak sadar, bahwa sampai detik ini kau masih menjadi bagian dari hal-hal yang kupikirkan sepanjang waktu. Kau bahkan tak pernah kuanggap masa lalu. Lalu aku harus berdamai dengan apa dan merelakan apa? Mungkin kau kira aku bodoh masih berharap padamu....