Jatuh Cinta Padamu.
Jelaskan padaku mengapa semua jadi serumit ini? Aku tak tahu jika kamu tiba-tiba memenuhi sudut-sudut terpencil di otakku, hingga memenuhi relung-relung hatiku. Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu mencintaimu. Sesederhana itulah kamu mulai mengusai hari-hariku. Kamu jadi penyebab rasa semangatku. Kamu menjelma jadi senyum yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Iya, mungkin, aku jatuh cinta. Entah kamu.
Sulit untuk menolak jatuh cinta padamu. Karena bibirmu mengucap cinta di telingaku, karena matamu berkata cinta pada mataku, karena pelukmu sehangat angin pagi, karena kecupmu semanis greentea latte di sore hari, dan hangatnya napasmu yang berembus di dekat tengkuk leherku-- adalah kebahagiaan nyata yang sepenuhnya aku tunggu.
Tidak mungkin kautak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kautidak menyadari, saat begitu ringan kauangkat tubuhku, menyandarkanku dengan sengaja di dinding, menciumiku dengan bibir lembutmu, dan kautatap begitu dalam mataku, lalu waktu terhenti di situ. Tidak mungkin kautidak melihat cinta di mataku. Tidak mungkin kautak menyadari, perempuan ini hanya padamu memberi hati. Tidak mungkin kamu tidak mengerti, ada aku yang terluka di sini.
Kauterus berbuat seperti ini. Memelukku, menciumiku, menghabiskan waktu beberapa saat sambil kita berdua menatap langit-langit kamar, lalu kaupergi lagi bergumul dengan duniamu, dunia yang tidak pernah melibatkan aku. Mungkin aku hanya kaubutuhkan, sebagai penghilang kesepian. Salahku memang, yang terlalu serius-- mencintai dan menggilaimu.
Hari ini kau di sini, besok kauakan ke sana dan ke mari. Hari ini kaubersamaku, besok entah dengan siapa, aku bahkan tidak tahu. Kausengaja simpan jutaan teka-teki yang tidak bisa aku pecahkan, membiarkan aku terus menebak-nebak, membiarkan aku terus berharap, membiarkan aku berdiam dalam muak.
Sebagai yang tak dianggap, aku tak berhak meminta dan menuntut. Silakan kaupergi sesuka hati, lakukan apapun yang kaumau, asal berjanjilah untuk kembali. Karena aku selalu menunggu dan menatap layar ponsel, berharap ada ucapan "hai" darimu.
Aku tidak bisa melupakanmu.... sungguh! Aku selalu ingat caramu menatapku. Caramu mencuri perhatianku. Kerutan matamu yang aneh, namun tetap terlihat memesona dalam pandanganku. Hal-hal sederhana itu seakan-akan sengaja diciptakan untuk tidak dilupakan. Tolong buat aku lupa, karena aku tak lagi temukan cara terbaik untuk menghilangkan kamu dari pikiranku.
Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas. Tapi, aku selalu ingat perkataanmu, "Mungkin kamu adalah jawaban dari doa-doa ku." Aku tersenyum ketika barisan kalimat itu kaukirimkan untukku. Iya, harusnya aku tak perlu sesenang itu, karena mungkin kamu menulisnya tanpa perasaan, hanya untuk memberiku harapan.
Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit kutebak, kamu teka-teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran. Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kautunjukkan padaku. Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kaukatakan untukku. Aku takut memercayai perhatian sederhanamu yang kauperlihatkan secara terselubung.
Ketahuilah, Aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara; kamu seakan-akan nyata. Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini.
Kamu dan aku berbeda, air dan api, dingin dan panas. Tapi, aku selalu ingat perkataanmu, "Mungkin kamu adalah jawaban dari doa-doa ku." Aku tersenyum ketika barisan kalimat itu kaukirimkan untukku. Iya, harusnya aku tak perlu sesenang itu, karena mungkin kamu menulisnya tanpa perasaan, hanya untuk memberiku harapan.
Rasanya menyebalkan jika aku tak mengetahui isi hatimu. Kamu sangat sulit kutebak, kamu teka-teki yang punya banyak jawaban, juga banyak tafsiran. Aku takut menerjemahkan isyarat-isyarat yang kautunjukkan padaku. Aku takut mengartikan kata-kata manismu yang mungkin saja tak hanya kaukatakan untukku. Aku takut memercayai perhatian sederhanamu yang kauperlihatkan secara terselubung.
Ketahuilah, Aku sedang berusaha melawan jutaan kamu yang mulai mengepul otakku, seperti asap rokok yang menggantung di udara; kamu seakan-akan nyata. Aku tak percaya, ternyata kita bisa melangkah sejauh ini.
Sungguh, aku tidak berharap lebih. Keinginanku sederhana. Kita duduk berdua saja. Tidak ada percakapan yang terjadi, hanya hati kita yang saling menghampiri. Kamu menggenggam jemariku, aku menggenggam jemarimu. Kita menghela napas sesaat, masih tak percaya bahwa pada akhirnya kita sampai di titik ini. Dulu, aku hanya bisa menatap chat-mu, namun pada akhirnya aku bisa benar-benar menatapmu. Lalu, kamu memandangiku, aku memandangimu. Kamu mendekat. Semakin dekat. Bisa aku rasakan aroma tubuhmu.
Komentar
Posting Komentar