Hal yang tak tergapai


Hari ini hujan sangat deras , hujan mengguyuri bumi seakan tidak ingin bumi kekeringan . kata orang hujan itu adalah sebuah hal romantis karena hujan tetap datang meski tau rasanya jatuh berkali –kali , menurutku ada hal yang lebih romantis tentang hujan , hujan jatuh seakan hanya memiliki alasan dia ingin membuat bumi tidak kekeringan karna matahari , sungguh itu hal yang semua orang ingin dapatkan , semua orang ingin memiliki seseorang disampingnya karena sebuah alasan , yaitu alasannya hanya dia tanpa alasan lain.

Satu tahun lalu saat kamu datang sungguh aku tidak pernah berpikir akan membuka hati. Tetapi tidak ada yang tahu rencana tuhan , bukan? Kamu orang yang membuatku berpikir bahwa ada seseorang yang mengharapkanku disampingnya , seseorang yang aku pikir akan menghapus luka sebelumnya , seseorang yang aku pikir tidak akan melukaiku seperti seseorang sebelumnya, ternyata tuhan berkata lain.


Ternyata aku lebih merasa sakit saat membuka hati untuk kamu , bahkan lebih dari sebelumnya bukan karena kamu orang yang jahat tapi karena kamu yang selalu tahu caranya untuk menyakitiku bahkan tanpa kamu sengaja dan setelah itu kamu hanya bisa meminta maaf.

Aku sering menulis tentang kamu, memikirkan kamu dan merindukan kamu. Tapi, aku pun juga harus memikirkan, apakah aku merasa bahagia saat menyayangi dan memberi perhatian kepada kamu dengan tulus? aku percaya, cinta itu harusnya mengobati bukan melukai. aku lelah, kebingungan.

Tahukah kamu? Disaat aku membuka hati dan memutuskan untuk berada disamping kamu yang aku rasakan hanyalah rasa sakit tapi seperti yang aku bilang ini bukan karena kamu jahat , sungguh bukan. Kamu bilang kamu seperti ini karena sebelumnya kamu disakiti oleh seseorang , kamu merasa dibuang dan kamu tidak ingin terlalu mencintai seseorang lagi. Sungguh saat itu aku kebingungan ingin menangis atau tertawa karena itu sama saja menyamakan aku dengan dia, dia yang dulu ada dihidupmu lalu meninggalkanmu.


Aku selalu mencoba memberi pengertian yang seharusnya tidak harus kuberikan agar kamu percaya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu saat kamu sedang mencintaiku , tetapi kamu tidak pernah mau tahu dan yang kamu lakukan hanya terus menyakitiku .

Aku sudah berharap lebih. Kugantungkan harapanku padamu. Kuberikan sepenuhnya perhatianku untukmu. Sayangnya, semua hal itu seakan tak kaugubris. Kamu di sampingku, tapi getaran yang kuciptakan seakan tak benar-benar kaurasakan. Kamu berada di dekatku, namun segala perhatianku seperti menguap tak berbekas. Apakah kamu benar tidak memikirkan aku?

Suatu hari kamu bercerita padaku kamu sudah melakukan sesuatu tetapi seseorang itu tetap meninggalkanmu , dan kamu meminta aku memberikan itu padamu sehingga setidaknya kamu bisa percaya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu. Dan disitulah aku percaya bahwa kamu bahkan belum memberikan hatimu padaku bahkan mempercayaiku saja kamu belum.

Semua telah berakhir. Setidaknya aku menganggap seperti itu karena aku pikir hanya aku yang berjuang disini Cuma aku yang terus menerus ingin membuatmu setidaknya percaya padaku. Aku mengakhiri segalanya denganmu. Tanpa ucapan pisah. Tanpa lambaian tangan. Tanpa kaujujur mengenai perasaanmu. Perjuanganku terhenti karena aku merasa tak pantas lagi berada di sisimu.

Kamu tahu? Jika  aku bisa langsung meminta pada Tuhan, aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebutkan namaku. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kamu menghempaskan aku sekeji ini.


Kalau kauingin tahu bagaimana perasaanku, seluruh kosa kata dalam miliyaran bahasa tak mampu mendeskripsikan. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa dijelaskan dengan definisi dan arti. Perasaan adalah ruang paling dalam yang tak bisa tersentuh hanya dengan perkatan dan bualan. Aku lelah. Itulah perasaanku. Sudahkah kaupaham? Belum. Tentu saja. Apa pedulimu padaku? Aku tak pernah ada dalam matamu, aku selalu tak punya tempat dalam hatimu.

Seandainya kamu bisa membaca perasaanku dan kamu bisa mengetahui isi otakku, mungkin hatimu yang beku akan segera mencair. Aku tak tahu apa salahku sehingga kita yang baru saja kenal, baru saja mencicipi cinta, tiba-tiba terhempas dari dunia mimpi ke dunia nyata. Tak penasarankah kamu pada nasib yang membiarkan kita kedinginan seorang diri tanpa teman dan kekasih?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi orang yang setiap hari terluka, hanya karena ia tak tahu bagaimana perasaan orang yang mencintainya?

Bisakah kaubayangkan rasanya jadi seseorang yang setiap hari menahan tangisnya agar tetap terlihat baik-baik saja? Kamu tak bisa. Tentu saja. Kamu tidak perasa.


Waktu mulai berlalu tanpa terasa karena aku masih kesakitan dan aku tidak menyadari waktu telah berlalu begitu cepat , sungguh saat ini aku sedang merindukanmu . wajar bukan aku ingin tahu kabarmu melalui social media? Dan tahukah kamu bagai sebuah pisau yang ingin merobek luka yang tersimpan lama , pisau itu tanpa tahu malunya merobel dengan sangat lebar luka itu. Ternyata benar , kamu tidak memiliki rasa karena dengan mudahnya kamu mencintai orang lain lagi.

aku selalu berusaha menganggap semua baik-baik saja. Semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Aku membayangkan perasaanku yang suatu saat nanti pasti akan hilang, aku memimpikan lukaku akan segera kering, dan tak ada lagi hal-hal penyebab aku menangis setiap malam. Namun.... sampai kapan aku harus terus mencoba?

Sementara ini saja, aku tak kuat melihatmu menggenggam jemarinya. Sulit bagiku menerima kenyataan bahwa kamu yang begitu kucintai ternyata malah memilih pergi bersama yang lain. Tak mudah meyakinkan diriku sendiri untuk segera melupakanmu kemudian mencari pengganti.

Aku menulis ini ketika mataku tak kuat lagi menangis. Aku menulis ini ketika mulutku tak mampu lagi berkeluh. Aku mengingatmu sebagai sosok yang pernah hadir, meskipun tak pernah benar-benar tinggal. Semoga kautahu, aku berjuang, setiap hari untuk melupakanmu.


Aku memaksa diriku agar membencimu, setiap hari, ketika kulihat kamu bersama kekasih barumu. Aku berusaha keras, setiap hari, menerima kenyataan yang begitu kelam.

Akhirnya, aku sampai di tahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, menyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu.

Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan.

Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi di mana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu.

Iya. Aku bodoh. Puas?

Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir. 

Komentar