Tentang Seseorang
Senyumnya
adalah bagian yang paling kuhapal. Setiap hari kunikmati senyum itu sebagai
salah satu pasokan energiku. Kali ini pun tetap sama, ketika kupandangi ia yang
sedang menulis sesuatu di kertasnya. Matanya sesekali mengarah padaku, ia
menyimpulkan senyum itu lagi.
Jatuh
cinta terjadi karena proses yang cukup panjang, itulah proses yang seharusnya
aku lewati secara alamiah. Pertama kali melihatmu; aku tahu suatu saat nanti
kita bisa berada di status yang lebih special , Tapi tak kusangka dicerita ini
aku terlalu terlihat murahan karena secara terang-terangan, aku tak pernah
bilang cinta, namun selalu kutunjukkan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian,
dan caraku membangun percakapan. Aku mencintainya. Terlalu mencintainya.
Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan,
meskipun semua singkat, tapi rasanya cinta begitu terburu-buru mengetuk pintu
hatiku.
Dengan
egoisnya aku menjadi takut kehilangan kamu lalu memaksamu menjadi milikku.
Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu
seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti
sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara.
Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika
kamu selalu kunomorsatukan?
Kamu
mungkin belum terlalu paham dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah
sibuk memikirkanku. Tahu kenapa kenapa aku bisa mengatakan itu? Karena aku
selalu merasa saat kamu menatapku kamu hanya menatap tetapi seakan tidak ingin
memasukinya , saat kamu mengenggap tanganku aku merasa kamu hanya sekedar mengenggamnya
tetapi tidak terlalu ingin dan saat kamu menciumku aku merasa kamu melakukannya
hanya karena ingin bukan untuk menunjukkan rasa kasih sayang.
Aku
bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa.
Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini
kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa
penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?
Perkenalan
kita sangat instan. Kepolosanmu membuat aku percaya, bahwa kamu adalah pria
paling tepat. Aku mulai membangun mimpi, harapan, dan keyakinan agar tidak
menyia-nyiakan kebersamaan kita. Kamu humoris dan manis, dua hal itu memang tak
cukup dijadikan alasan akan hadirnya cinta. Terlalu terburu-buru jika aku
mengartikan ini semua adalah cinta, mungkinkah kita terjebak dalam ketertarikan
sesaat?
Kalau
boleh jujur, aku sungguh menikmati kebersamaan kita. Kebersamaan yang terjalin
dari mahluk yang bisa membuat bodoh dan pintar dalam waktu yang
bersamaan—handphone. Perhatian dan kecupan kecil yang kauselipkan dalam setiap
percakapan lewat tulisan itu membuat aku banyak berharap. Kupikir, kamu memang
punya perasaan yang serius. Iya, aku salah, harapanku terlalu tinggi. Entah
mengapa aku tak bisa berpikir jernih bahwa pria seberlian kamu tak mungkin
menaruh hati pada tanah liat seperti aku.
Aku
bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai wanita
spesial? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja,
tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak
kuinginkan.
Saat
bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum
penuh arti. Ketika berbicara di LINE, kita begitu bersemangat, aku bisa
merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya
segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku
sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku
merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa
perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar hal
yang biasa dilakukan seseoramh untuk berbuat baik.
Aku
tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan
sakit sendirian. Tapi, nyatanya....
Perasaanku
tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa
mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh
pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku
hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya wanita
yang takut kehilangan seseorang yang belum tentu memiliki perasaan yang sama
denganku.
Salahku
memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah
bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasaan yang sama? Kamu sudah jadi
sebab tawa dan senyumku, aku percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu
tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan
memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah
kebodohan yang harus kusesali.
Aku
sudah berjanji pada diriku sendiri agar tidak berharap terlalu banyak. Kejadian
beberapa hari yang lalu hanyalah ketertarikan sesaat. Mungkin, aku sudah lupa
rasanya berbicara sehangat dan sedekat kemarin, makanya pria itu terasa begitu
spesial . Dalam waktu singkat, kami bisa bicara banyak hal. Seleranya dekat
dengan seleraku, banyak kesamaan. Namun, seharusnya banyak kesamaan belum tentu
menyebabkan ketertarikan. Harusnya memang begitu. Apa yang kauharapkan dari
sosok pria yang baru saja kaukenal? Aku tak pernah segelisah ini. Kupikir tak
ada hal yang terlalu mengkhawatirkan di hidupku selama aku tidak mengurusi
orang lain, namun nyatanya kehadiran singkat pria itu benar-benar meresahkanku.
Komentar
Posting Komentar